Download now! Coba aplikasi android berita unik xyz di playstore sekarang!

Ladies Tak Perlulah Menangisi Pria Yang Memutuskan Hubungan Lewat Pesan Singkat

Ladies Tak Perlulah Menangisi Pria Yang Memutuskan Hubungan Lewat Pesan Singkat –  Punya pengalaman tak menyenangkan atau tak terlupakan soal pertanyaan ‘kapan’? Kata ‘kapan’ memang bisa jadi kata yang cukup bikin hidup nggak tenang. Seperti kisah sahabat Vemale yang disertakan dalam kompetisi Stop Tanya Kapan! Ungkapkan Perasaanmu Lewat Lomba Menulis Juli 2018 ini. Pada dasarnya kamu nggak pernah sendirian menghadapi kegalauan dan kecemasan karena pertanyaan ‘kapan’.
Menua adalah proses hidup yang tak dapat dielakkan dan tidak ada manusia yang mau hidup sendiri sampai usia senjanya. Seperti aku, di usiaku yang hampir menginjak kepala tiga tetapi belum menikah. Malu? Sudah pasti, terkadang ada perasaan ingin menenggelamkan diri dalam lingkungan. Karena di mana wanita seumuran denganku sudah pusing memikirkan suami dan anak-anak mereka. Sedangkan aku masih dipusingkan dengan masalah jodoh.

Aku memang tak seberuntung teman-temanku. Dengan status single ini sudah pasti banyak cibiran yang mengarah padaku. Mau uring-uringan seperti apapun takkan ada gunanya. Mereka akan tetap melontarkan pertanyaan, “Kapan nikah? Jangan terlalu pemilih, kapan nikah? apa nggak ingin punya anak, kapan nikah? inget umur.” Seandainya mereka mengerti. Sendiri adalah pilihanku saat ini, atas semua hal yang telah terjadi, dan atas kandasnya kisah di hari lalu.

Ladies Tak Perlulah Menangisi Pria Yang Memutuskan Hubungan Lewat Pesan Singkat
Ladies Tak Perlulah Menangisi Pria Yang Memutuskan Hubungan Lewat Pesan Singkat
Aku menjalin hubungan dengan teman sekantorku. Hubungan yang hampir 3 tahun dan ternyata sangat rumit. Dalam hatiku aku percaya bahwa dia adalah lelaki terbaik dalam hidupku, dibandingkan mereka yang dulu pernah dekat denganku. Dia baik, dia selalu mau mengalahkan egonya. Semua masalah selalu bisa kita selesaikan. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk merencanakan sebuah pernikahan. Saling memperkenalkan kepada keluarga besar masing masing.
Hingga dia memutuskan untuk resign dari kantor agar mendapatkan pekerjaan yang lebih baik untuk masa depan kami, untuk sebuah pesta pernikahan dan menyewa sebuah rumah sederhana yang layak. Ah, impian yang indah. Tapi entah kenapa ada perasaan aneh saat dia resign dari kantor, seakan dia akan pergi jauh dari hidupku. Aku mencoba mengelakkan perasaanku tersebut. Aku harus selalu menemani dan mendukung apapun keputusan dia. Mendoakannya dalam setiap salatku.

Aku selalu meyakini bahwa menyatukan dua kepala yang berbeda memang tak mudah tapi bila memiliki satu tujuan yang sama pasti terasa mudah. Dan aku mulai kehilangan kepercayaanku tersebut. Saat dia memilih jalannya sendiri tanpa berunding denganku. Dia kembali ke kotanya untuk membuka usaha dengan beberapa karyawan. Ya, dia dari luar kota. Dan hubungan long distance ini semakin merumitkan hubungan dan rencana kami.

Pertengkaran demi pertengkaran sering terjadi, dia mulai  berubah menjadi sosok yang emosional. Aku mencoba untuk sabar dan selalu mengerti kondisinya. Sampai beberapa hari sebelum hari lamaran dia memutuskan untuk mengundurnya. Wajar bila aku kecewa, aku marah, tapi aku mencoba sekali lagi untuk mengerti dan menjelaskan kepada kedua orangtuaku agar mereka tidak khawatir.
Hingga akhirnya dia jarang memberi kabar. Dan apa yang tidak pernah aku pikirkan tentang dia pun terjadi. Dia mengakhiri hubungan kami hanya dengan melalui pesan singkat. Dia ingin fokus dengan usahanya di sana. Dia sudah tidak punya waktu memikirkan hal lain selain usahanya. Hancur, impian dan perasaan ini telah hancur, terlebih saat melihat kedua orangtuaku yang telanjur berharap kepadanya. Banyak yang tak percaya dia akan setega itu terhadapku. Lari di saat jauh. Tapi memang itu kenyataannya, ambisi mengalahkan segalanya.

Aku mencoba bangkit dari keterpurukanku, memakai topeng, tersenyum ceria seperti biasanya. Memulai hari-hariku tanpa dia lagi. Sepahit apapun kekecewaan yang aku telan, sesesak apapun dadaku menangisinya, semua sudah menjadi kehendak-Nya. Mencoba ikhlas, berpikir positif tentang apa yang aku alami. Apa yang menurutku terbaik belum tentu terbaik bagi-Nya juga. Dan di luar sana mungkin masih banyak wanita yang mengalami hal yang lebih buruk daripada aku.

Usia hanyalah sebuah angka, biarlah orang berpendapat menurut mereka, who cares? Mungkin untuk mereka yang hobi bertanya kapan nikah lebih baik ganti pertanyaan dengan doa, “Semoga segera menikah,” sebab tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi di masa lalu seseorang. Tidak semua orang bisa berteman dengan pertanyaan tersebut. Deadline-mu bukan deadline-ku karena waktu dan porsi setiap orang berbeda.